FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa

FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa - Hallo sahabat Malaysia dan Sekitarnya, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Artis, Artikel Berita, Artikel Budaya, Artikel Kabar, Artikel Malaysia, Artikel Melayu, Artikel News, Artikel Politik, Artikel Ragam, Artikel Singapore, Artikel Singapura, Artikel Sosial, Artikel Terbaru, Artikel Terkini, Artikel Update, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa
link : FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa

Baca juga


FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa


Rizal Wahid Pengamat Intelijen dan Keamanan, Direktur INSS di UNESA menjadi Narsum  FGD Kritis Dialogis No Anarkis

SURABAYA| KEJORANEWS.COM: Universitas Negeri Surabaya kembali mempertegas komitmennya dalam membangun budaya akademik yang kritis, dialogis, dan damai melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merajut Nalar dan Nurani Mahasiswa untuk Bangsa: Kritis Dialogis No Anarkis” yang berlangsung di Auditorium Fakultas Hukum UNESA lantai 2, Sabtu (16/5/2026).

Forum intelektual yang digelar BEM UNESA tersebut dihadiri pengurus BEM fakultas, aktivis mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, serta peserta dari berbagai fakultas. Kegiatan menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan akademisi, yakni Rizal Wahid, Pengamat Intelijen dan Keamanan, Direktur INSS, Mufti Makarim,Founder Marapi Consulting & Advisory, Jakarta, Indonesia, Ketua Badan Kehormatan DPRD Kota Surabaya Imam Syafi’i, serta Hikam Hulwanullah dosen fakultas hukum Unesa. Diskusi dipandu moderator Jauhar Wahyuni dengan suasana interaktif dan dinamis.

FGD dibuka langsung oleh Kasubdit Ormawa Tutur Jatmiko yang menegaskan pentingnya kampus menjadi ruang dialog sehat yang tetap menjunjung nilai akademik dan etika demokrasi.

“Kita tidak hanya berproses untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga semoga menjadi amal kebaikan untuk semuanya. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, kegiatan ini saya nyatakan dibuka,” ujarnya.

Menurut Tutur, forum diskusi mahasiswa harus mampu melahirkan gagasan nyata yang dapat memberikan kontribusi bagi bangsa dan masyarakat.

“Saya berharap acara ini banyak diskusi yang tentunya bisa membawa banyak perubahan. Permasalahan hukum dan sosial harus menjadi perhatian bersama. Harapannya ada ide-ide yang bisa dibawa ke level lebih tinggi untuk menjadikan Indonesia lebih baik,” katanya.

Ia juga menilai dinamika perbedaan pendapat di lingkungan kampus merupakan hal yang wajar selama tetap disampaikan secara santun dan intelektual.

“Kalau persinggungan ide mungkin sering terjadi dan itu positif. Tapi kalau persinggungan fisik, alhamdulillah di UNESA masih nyaman. Setelah debat biasanya tetap ngopi bareng,” ungkapnya.

Mahasiswa Harus Berani Menyampaikan Gagasan

Dalam sesi diskusi, Hikam Hulwanullah menilai kegiatan seperti FGD menjadi kebutuhan akademik sekaligus kebutuhan masyarakat karena membuka ruang bertukar pikiran secara profesional.

“Acara hari ini luar biasa keren. Ini kebutuhan akademik dan kebutuhan rakyat Indonesia pada umumnya karena kita mendapat forum untuk sharing dan bertukar pikiran. Semoga kegiatan seperti ini konsisten dan terus menjadi jembatan bagi mahasiswa menyampaikan pendapat secara elegan dan profesional,” ujarnya.

Menurut Hikam, mahasiswa perlu mampu menangkap persoalan yang berkembang di masyarakat lalu mengolahnya menjadi gagasan yang argumentatif dan solutif.

Pandangan serupa disampaikan Imam Syafi’i. Ia menekankan mahasiswa harus aktif memahami persoalan sosial sebagai bagian dari peran mereka sebagai agent of change.

“Mahasiswa harus memahami isu-isu yang berkembang di bawah karena mereka adalah agent of change. Kalau nanti mereka menjadi anggota DPRD, insyaallah bisa lebih baik karena sejak mahasiswa sudah terbiasa berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan bertemu narasumber-narasumber berpengalaman,” katanya.

Ia menilai forum semacam ini menjadi sarana penting untuk melatih keberanian berbicara, kemampuan komunikasi, dan sensitivitas sosial mahasiswa.

Rekomendasi Mahasiswa Harus Jadi Dokumen Kebijakan

Sementara itu, Mufti Makarim menekankan pentingnya tindak lanjut dari berbagai rekomendasi yang dihasilkan mahasiswa dalam forum tersebut.

“Yang perlu dipastikan adalah rekomendasi-rekomendasi yang dibuat teman-teman ini benar-benar menjadi dokumen yang bisa dikompilasi dan disampaikan sesuai tujuannya, baik ke pemerintah daerah, kementerian, maupun presiden,” ujarnya.

Mufti mengapresiasi kemampuan mahasiswa dalam merumuskan berbagai persoalan strategis nasional, meski menurutnya masih perlu penguatan data dan landasan akademik.

“So far teman-teman sudah bisa merumuskan ide dan itu sudah sangat bagus. Artinya hari ini ada output konkret yang bisa ditindaklanjuti dalam studi maupun kegiatan organisasi mahasiswa,” tambahnya.

Sedangkan Rizal Wahid menegaskan bahwa FGD tersebut bukan sekadar seminar biasa, melainkan ruang lahirnya gagasan kebijakan yang dapat diperjuangkan mahasiswa.

“Ini bukan sekadar seminar. Harapannya apa yang mereka rancang benar-benar menjadi policy brief yang hidup dan bisa dipegang,” tegasnya.

Menurut Rizal, mahasiswa berhasil mengidentifikasi empat hingga lima persoalan strategis nasional yang potensial untuk diperjuangkan melalui jalur advokasi kebijakan.

Ia juga mencontohkan pembahasan terkait konsep KDMP yang dinilai dapat menjadi tawaran kebijakan baru bagi stakeholder pemerintah.

“Mahasiswa jangan hanya menawarkan platform atau gagasan, tetapi juga regulasi dan langkah konkret agar kebijakan itu benar-benar bisa direalisasikan,” pungkasnya.

Melalui forum “Kritis Dialogis No Anarkis” tersebut, UNESA kembali menunjukkan perannya sebagai ruang intelektual yang mendorong mahasiswa aktif berpikir kritis, menyampaikan aspirasi secara damai, serta menghadirkan solusi nyata bagi persoalan bangsa.



FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa

Sekianlah artikel FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Sudah dibaca FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa linknya https://malaysiadansekitarnya.blogspot.com/2026/05/fgd-kritis-dialogis-no-anarkis-unesa.html

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "FGD Kritis Dialogis No Anarkis UNESA Surabaya Perkuat Budaya Kritis Mahasiswa "

Posting Komentar